Benteng Rotterdam: Dari Militer Hingga Pusat Kebudayaan

 


Disusun Oleh :

- Andi Rahmadani

- Riska Sudiarti

- Rizka



Pada tanggal 30 Agustus kemarin, langit Makassar begitu cerah seakan turut menyemangati langkah kami, para mahasiswa program studi Pendidikan Antropologi dalam perjalanan study tour ke Benteng Rotterdam. Kegiatan ini merupakan inisiatif dari kakak-kakak pengurus himpunan mahasiswa, yang mengajak kami untuk melihat lebih dekat dan mempelajari sejarah yang tersimpan di Benteng Rotterdam. Sesampainya disana, kami dibagi menjadi beberapa kelompok dengan tujuan agar dapat saling mendukung dalam mendokumentasikan, mencatat, dan mendalami setiap detail penting yang kami temukan, dan juga sebagai hasil dari kunjungan ini, kami diminta untuk membuat video dan esai yang menggambarkan pengalaman dan pengetahuan yang kami peroleh, tentunya dengan semangat kami menyepakati hal tersebut, meskipun membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya disamping kesibukan yang lain. Kelompok kami, khususnya tertarik untuk membahas perihal transformasi fungsi Benteng Rotterdam, mulai dari perannya sebagai benteng militer hingga menjadi pusat kebudayaan.

Masyarakat kota Makassar pasti tidak asing lagi dengan Benteng Rotterdam, yang mana kini menjadi pusat kebudayaan. Namun, sebelum memiliki fungsi seperti sekarang, benteng ini menyimpan sejarah panjang sebagai benteng militer yang dibangun oleh Kesultanan Gowa pada abad ke-17. Awalnya, benteng ini dinamakan "Benteng Ujung Pandang" yang berperan penting dalam mempertahankan wilayah kerajaan dari serangan musuh, terutama kolonial Belanda. Setelah jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1667, benteng ini berganti nama menjadi Benteng Rotterdam, sesuai dengan tempat kelahiran Gubernur Jenderal Cornelis Speelman yang memimpin penaklukan Makassar. Di bawah kekuasaan Belanda, fungsi benteng ini diperkuat sebagai basis militer dan pusat administrasi kolonial di wilayah timur Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, pasca-kemerdekaan Indonesia, Benteng Rotterdam mengalami transformasi signifikan. Benteng yang dulunya simbol kekuasaan kolonial, mulai beralih fungsi menjadi ruang yang lebih inklusif bagi masyarakat. Pada tahun 1970-an, pemerintah Indonesia menjadikannya sebagai pusat kebudayaan dan museum sejarah yang tidak hanya menampilkan peninggalan kolonial, tetapi juga warisan budaya lokal masyarakat Sulawesi.

Saat kunjungan kami di Benteng Rotterdam, kami sempat menjelajahi gedung-gedung museum La Galigo yang melestarikan dan memamerkan banyak warisan sejarah dan budaya lokal Sulawesi. Salah satu peninggalan yang menarik perhatian kami adalah senjata tradisional seperti badik, senjata khas masyarakat Bugis-Makassar, yang mana senjata ini tidak hanya digunakan untuk pertahanan, tetapi juga menjadi simbol status sosial dan juga kehormatan. Selain itu, terdapat koleksi peralatan pertanian kuno yang menambah pengetahuan kami akan kehidupan agraris masyarakat Sulawesi pada masa lalu. Peralatan ini mencerminkan bagaimana masyarakat lokal dulu sangat bergantung pada hasil bumi untuk bertahan hidup.

Di museum ini, kami juga melihat naskah-naskah lontara, yaitu tulisan kuno masyarakat Bugis-Makassar, yang mana merupakan warisan intelektual yang sangat berharga, karena di dalamnya terkandung berbagai aspek pengetahuan mulai dari silsilah kerajaan, hukum adat, hingga puisi dan sastra. Adapula yang tak kalah menarik dari museum La Galigo ini yaitu replika kapal Pinisi, kapal layar tradisional Sulawesi Selatan yang telah terkenal hingga mancanegara. Pinisi menggambarkan kemampuan maritim nenek moyang yang begitu tangguh, serta menunjukkan hubungan erat masyarakat Sulawesi dengan lautan.

Kini, Benteng Rotterdam tidak hanya berperan sebagai pusat pameran kebudayaan dan sejarah, tetapi juga menjadi tempat penyelenggaraan berbagai acara kebudayaan, termasuk pameran seni, pertunjukan musik, diskusi ilmiah, hingga festival sastra modern yang menarik perhatian masyarakat lokal maupun wisatawan.

Perubahan fungsi ini mencerminkan bagaimana sebuah tempat yang semula diciptakan untuk keperluan militer, lambat laun dapat bertransformasi menjadi simbol pelestarian budaya dan identitas bangsa. Benteng Rotterdam tidak hanya menjadi saksi bisu dari sejarah panjang peperangan dan penjajahan, tetapi kini juga menjadi wadah yang mempertemukan generasi muda dengan akar budaya mereka, serta menjembatani dialog antara masa lalu dan masa kini.

Komentar

Postingan Populer

Sistem Kuliah Online UNM terinfeksi Covid-19, Mahasiswa Sesak Akal

Stigma Mahasiswa Gondrong

HMPS PENDIDIKAN ANTROPOLOGI FIS UNM Adakan Baksos di Bumi Sawerigading

Teruntuk kaum rebahan, mari kita hilangkan kesenangan "Hore, kuliah online"