SADAR UNTUK BANGKIT
Tulisan ini lahir dari apa yang saya lihat dan saksikan. di lingkungan cendikiawan yakni lingkungan kampus. Berbicara tentang gerakan mahasiswa selalu diselimuti dengan yang namanya perubahan. Perubahan yang dimaksud ialah untuk mengubah kondisi kehidupan yang ada lalu kemudian digantikan dengan kondisi yang diharapkan. Karena hidup terus berjalan dan tak ada perjalananan yang mundur sebab waktu terus mengawasi, mungkin kata “Resah” tak lagi asing di lingkungan kampus. Resah terhadap sebuah kondisi kehidupan yang membutuhkan perubahan baik itu perubahan kepada diri sendiri maupun dalam cakupan yang luas. Namun, mahasiwa yang katanya (bukan kata saya) “agen of change” justru terkesan acuh dan gerakannya malah redup terhadap kondisi yang ada padahal kondisi saat ini tidak baik-baik saja yang mana berbagai kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat itu kemudian di sahkan, lantas dimanakah keberadaan mahasiswa itu mengapa gerakannya dikatakan redup?
Tidak dapat di pungkiri bahwasanya mahasiswa masih mengelu-elukan kesuksesan gerakan angkatan 66 yang mampu meruntuhkan orde lama dan gerakan 98 yang mampu meruntuhkan orde baru. Masih banyak yang ingin meneruskan pola-pola lama, cara-cara yang cenderung keras dan berbau agitasi. Hasilnya malah dicurigai dan relatif berhadapan langsung dengan aparat. Mungkin ada baiknya kita meninggalkan cara-cara yang berbau kekerasan dengan adakan dialog dengan pihak-pihak yang bersangkutan.
Saat ini juga sebagian besar mahasiswa lebih cenderung berpikir pragmatis, dimana cara berpikir, bersikap, bertindak serba kongkret dan realistis. Tentang apa yang mereka persiapkan untuk menghadapi hidup riil dimasa depan. Simplenya, bagaimana agar mereka mudah mendapatkan pekerjaan kelak. Perlu diingat, persaingan mencari pekerjaan cenderung semakin ketat dan sulit. Banyak pula mahasiswa yang cenderung membaca buku berrak-rak yang kemudian ia jadikan sebagai bahan untuk eksistensi namun tak mampu ia implementasikan kepada dirinya sendiri sehingga menurunkan etika dan moral yang ia miliki karena cenderung egois.
Tak hanya itu, banyak sekali fenomena mahasiwa khususnya kaum perempuan yang cenderung menggunakan ideologi feminisme namun kemudian ia terperangkap sendiri ke dalam ideologinya tersebut. Fenomena di lingkungan kampus yang banyak kita jumpai perempuan minum minuman keras (alkohol), merokok, dan seks bebas dengan alasan kesetaraan gender. Hal itu sungguh sangat miris, keluarnya istilah “setara bukan berarti sama” karena hal ini dan saya sangat sepakat terhadap istilah itu. Karena ketika kita berbicara tentang "setara" artinya yang dimaksud adalah posisi dan kedudukan. Namun ketika kita berbicara tentang kata “sama” artinya tak ada perbedaan dalam segala hal dan bisa dikatakan bahwasanya sama itu adalah identik. Tak ada salahnya ketika perempuan merokok dan minum minuman keras (alkohol) ketika ia melakukannya karena ada kebutuhan didalamnya bukan karena ingin terlihat sama dengan laki-laki. Hidup adalah pilihan dan semua orang berhak untuk memilih, namun pilihan akan salah ketika kita masih terperangkap dengan pola pikir yang demikian. Selain itu, cukup miris pula melihat sebagian perempuan yang kemudian memilih untuk merokok dan minum minuman keras (alkohol) karena ada kebutuhan dibaliknya justru malah bersembunyi di balik tembok-tembok yang bernama “kultur”. Ia melakukannya secara diam-diam di balik panggung keramaian, namun masih kepedean untuk berbicara persoalan kesetaraan gender sementara dirinya sendiri masih terkungkung didalam ketakutan. Ketakutan dan keminderan yang dirasakan haruslah di tepis karena hal tersebut adalah bagian dari kemunduran, jangan pernah bersembunyi dalam mendengungkan arti sebuah kebebasan. Ada pula sebagian kaum perempuan (mahasiswa) yang menjadikan tubuh dan wajahnya sebagai komoditas atau pasar yang di pajang di sosial media untuk memasarkan sebuah brand pakaian. Sungguh miris!
Mengubah keadaan secara revolusioner agaknya masih jauh dari mungkin. Oleh karena itu bentuk gerakan mahasiswa yang radikal nampaknya kurang sesuai. Mahasiswa harus secara cermat menyadari situasi yang sekarang sedang berjalan dan harus secara cermat pula membaca dan mencari peluang. Sebab kesempatan mahasiswa untuk tampil memang masih terbuka lebar. Apalagi mahasiswa adalah bagian dari masyarakat Indonesia yang secara sempit adalah bagian dari generasi muda yang paling potensial dan keterlibatannya paling di harapkan. Bukankah masa depan itu milik pemuda? Tantangan yang ada bukanlah alasan untuk bungkam sebab kata “tidak bisa” hanya dianut oleh orang-orang yang putus asa. Tak ada generasi yang dapat menghindarkan diri dari zamannya. Seperti kata senior saya “setiap orang punya masa, setiap masa beda cerita”. Dibalik pengharapan ada penantian, mungkin saja salah satu dari kita akan menjadi pelaku atau hanya sebagai penyaksi.
Salam hangat pergerakan,
IAV
Komentar
Posting Komentar