GRATIFIKASI MENJADI BUDAYA
Penulis: Zalshabila Rahmadhani
Di zaman yang serba mudah seperti sekarang tentu saja mendorong manusia-manusia untuk lebih dan lebih mempermudah hidupnya. Segala cara dihalalkan untuk melakukan itu semua, bahkan jika mereka tahu itu salah. Memang mudah untuk melakukan segala hal jika sudah seperti itu tapi, dampak kedepannya lebih merepotkan lagi. Manusia akan bermalas-malasan dan saling menjatuhkan untuk mencapai kemudahan hidup itu. Di kalangan muda, Mahasiswa tidak jarang ada kasus pemberian bingkisan kepada oknum-oknum petinggi kampus dengan maksud tertentu.
Bingkisan atau bahasa kerennya parsel yang selalu jalan beriringan bersama dengan mahasiswa menuju ruangan oknum birokrasi kampus. Sepengetahuan saya pemberian parsel ini kebanyakan dilakukan mahasiswa akhir untuk penyelesaian studinya. Itu biasa kita kenal juga dengan gratifikasi. Tidak sedikit mahasiswa yang melakukan perbuatan ini bahkan dengan terang-terangan. Jumlah per bingkisannya pun tidak terbilang sedikit, tapi selalu saja membudaya di kalangan mahasiswa. Gratifikasi tidak hanya mencakup bingkisan-bingkisan bisa juga makan siang penguji atau hal-hal lain.
Bahkan gratifikasi ini dilakukan secara sadar. Bukankah mereka sadar mereka tengah melakukan penyogokan dalam usaha mempermudah studinya itu. Ini terus mendarah daging pada mahasiswa dengan iming-iming budaya yang sudah ada sejak lama. Mahasiswa lain yang sangat menolak tindakan gratifikasi pun mengambil tindakan dengan melakukan aksi tuntutan kepada petinggi kampus. Sudah sekian banyak isu ini dikawal namun, selalu saja tanggapan para dosen/petinggi kampus mengatasnamakan kemauan dari mahasiswa itu sendiri tanpa ada paksaan dari mereka. Para petinggi itu selalu saja bilang akan menindaklanjuti tanpa ada hasil yang diberikan kepada yang menuntut.
Setelah dikeluarkan surat edaran Nomor: 10B/SE/2017 tentang “Larangan Menerima Hadiah” oleh Kemendikbudristek pun oknum-oknum gratifikasi tetap tutup telinga dan tetap menjalankan ”budaya”-nya tersebut. Namun, peraturan itu pula yang menjadi pegangan untuk mahasiswa semakin semangat mengawal kegiatan ini.
Komentar
Posting Komentar