KEMATIAN: PERMULAAN DARI SUATU AKHIR
Esai - Ismail Saputra
Kematian bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah awal dari kehidupan yang abadi kelak
Sungguh kematian itu mengganggu manusia sepanjang hidupnya. Ia akan menyebabkan manusia selalu berfikir bahwa segala upayanya itu pada akhirnya akan berujung pada ketiadaan. Semua yang ia usahakan pada akhirnya akan ia tinggalkan. Apa itu Kematian ? Pengertian umum menggambarkan kematian yaitu merupakan akhir dari suatu kehidupan atau ketiadaan nyawa sutau mahluk hidup ataupun ketidakberfungsinya organ biologis mahluk hidup secara permanen.
Seorang filsuf berkebangsaan jerman bernama Heidegger menerangkan dua macam kematian; yang satu dia sebut sterben, artinya mati, dan satu lagi ia sebut off-liven, off artinya mati dalam bahasa inggris, dan live artinya hidup, atau meninggal dunia. Jadi ada dua kematian, yang satu mati yang satunya lagi meninggal dunia, tapi saya kira bahasa Indonesia tidak cukup menggambarkan itu. Kata Heidegger off-liven adalah kematian yang datang dengan sendirinya yang tidak membedakan antara kematian manusia dan kematian binatang, kematian tanaman, kematian jam tangan, radio atau pun HP Anda, itu off-liven, satu kematian yang tidak bisa kita hindarkan, dan pada waktunya akan datang menyergap kita. Kata Al-Qur’an; dimanapun kamu hidup, kematian akan memburu kamu. “Ingatlah, mau tidak mau kematian akan menjemput Anda. Anda tidak mungkin lari darinya. Dimanapun Anda berada, kematian akan menjemput. Anda jangan pernah bisa membayangkan bisa menghindarinya sekalipun banteng dan baja mengelilingi Anda.” (Q.S An-Nisaa[4]:78) Kata Imam Ali, setiap tarikan nafas adalah langkah kita menuju kuburan kita.
Kematian yang satu lagi ia sebut sterben, yaitu kematian yang Orang itu rencanakan, kematian yang mewarnai kehidupannya, karena ia memikirkan bagaimana ia akan mati, maka hidupnya diwarnai oleh perjuangan ataupun pilihan bagaimana ia akan mati. Pada yang pertama, semua orang menghindari kematian, atau melupakan kematian dengan mencari hiburan, mengumpulkan kekayaan. Tapi pada yang kedua orang pada menjemput kematian, dia berlari menyongsong kematiannya. Ia merindukan saat-saat ia mati seperti yang ia harapkan, seperti yang ia rencanakan.
Pertanyaan yang kemudian membuntuti kita adalah: “Kematian model mana yang ditawarkan Heidegger, yang akan kita pilih; model sterben atau off-liven ?” Pertanyaan susulan, “Sudahkah bersiap untuk menghadapi kematian? Seberapa jauh persiapan tersebut?” Jawabannya tentu berbeda setiap individu. Sejatinya, masing-masing akan memilih model kematian ideal, yakni sterben.
Dalam kitabnya, Tuhan telah memperingati Manusia bahwa, Setiap orang pasti akan merasakan kematian, walaupun arti “merasakan” itu tidak sama dengan yang dipersepsi oleh orang yang hidup. Kematian adalah salah satu bagian dari kehidupan yang pasti dijalani, sama seperti kelahiran. Bedanya adalah yang pertama menandai awal dari suatu kehidupan, sedangkan yang terakhir menandai akhir dari suatu kehidupan.
Pengalaman kebutuhan untuk mersakan kematian bukan semata-mata bahwa kita akan mati dulu, namun itu adalah hal yang bisa kita pikirkan melalui pemikiran-pemikiran para filsuf, rohaniawan ataupun ilmuwan. Dengan demikian bukan hanya mendahului kematian, tapi juga tanpanya kerja nalar untuk menghadirkan dunia ke hadapan kesadaran tidaklah dimungkinkan. Adapun kematian, kita tidak mengenali dan memahaminya melalui pengalaman (ketubuhan) lantaran kita tidak hidup untuk mengalami kematian we not live to experience death (Wittgenstein, 2007) karena selama seseorang hidup kematian tak ada dan ketika kematian datang, subjek yang semestinya mengalami kematian tersebut sudah tak lagi ada (Luper, 2009)
Kematian adalah keniscayaan yang tidak terelakkan, bisa dirasakan oleh manusia kapan saja di sepanjang kehidupannya. Mati menurut para rohaniawan adalah terpisahnya ruh dari jasad, sedangkan hidup yakni bertemunya ruh dengan jasad. Setiap manusia mengalami saat berpisahnya ruh dari jasadnya apabila ajal tiba menjemputnya. Namun pernahkan Teman-teman memikirkan bagaimanakah bila anda dalam proses menuju kematian itu(Sakratul Maut). Atau bagaimanah perasaan orang-orang menuju yang namanya kematian ?.
Menurut pakar psikologi, Kubler-Roos (1969), ada 5 fase menjelang kematian yang mempengaruhi perilaku dan proses berfikir seseorang saat-saat Sakratul Maut.
1. Fase Penolakan Dan Isolasi (Denial And Isolation)
Fase pertama ini di mana seseorang menolak bahwa kematian benar-benar ada. Namun, penolakan merupakan pertahanan diri yang bersifat sementara dan kemudian akan digantikan dengan rasa penerimaan yang meningkat saat seseorang dihadapkan pada beberapa hal seperti pertimbangan keuangan, urusan yang belum selesai dan kekhawatiran mengenai kehidupan anggota keluarga yang lainnya nanti.
2. Fase Kemarahan (Anger)
Pada Fase ini, seseorang menjelang kematian menyadari bahwa penolakan tidak dapat lagi dipertahankan, penolakan sering kali memunculkan rasa marah, benci, dan iri. Pada titik ini, seseorang menjadi sulit dirawat, karena amarahnya sering kali salah sasaran dan diproyeksikan kepada para dokter, perawat, anggota keluarga dan juga Tuhan (pencipta alam). Realisasi dari kehilangan ini besar dan mereka menjadi simbol dari kehidupan, energi dan fungsi-fungsi yang merupakan target utama dari benci dan cemburu orang tersebut.
3. Fase Tawar-Menawar (Bargaining)
Merupakan fase di mana seseorang mengembangkan harapan bahwa kematian sewaktu-waktu dapat ditunda atau diundur. Dalam usaha mendapatkan perpanjangan waktu untuk beberapa hari, minggu, atau bulan dari kehidupan, seseorang berjanji untuk mengubah kehidupannya yang didedikasikan hanya untuk Tuhan atau melayani orang lain.
4. Fase Depresi (Depression)
Seorang yang sekarat akhirnya menerima kematian. Pada titik ini, suatu periode depresi atau persiapan berduka mungkin muncul. Orang yang menjelang kematiannya mungkin akan menjadi pendiam, menolak pengunjung, serta menghabiskan banyak waktunya untuk menangis dan berduka. Perilaku ini normal dalam situasi tersebut dan sebenarnya merupakan usaha nyata untuk melepaskan diri dari seluruh objek yang disayangi. Usaha untuk membahagiakan orang yang menjelang kematian pada fase ini justru menjadi penghalang karena orang tersebut perlu untuk merenungkan ancaman kematian.
5. Fase Penerimaan (Acceptance)
Merupakan fase terakhir di mana seseorang mengembangkan rasa damai, menerima takdir, dan dalam beberapa hal ingin ditinggal sendiri. Pada fase ini perasaan dan rasa sakit pada fisik mungkin hilang. Kubler-Roos menggambarkan fase ini sebagai akhir perjuangan menjelang kematian.
Kematian orang yang kita cintai dan sayangi akan menjadi pemantik duka cita yang mendalam bagi yang ditinggalkannya. Kita akan merasa sangat sedih dan mengeluarkan air mata kesedihan yang tumpah ruah, seolah air mata itu taka da habisnya. Tiap kali membayangkan orang yang kita cintai itu maka taka da penolakan kesedihan oleh diri kita sehingga terus mengucurkan rasa sedih itu melalui air mata. Duka cita (grieve) adalah merupakan kelumpuhan emosional, tidak percaya, kecemasan akan berpisah, putus asa, sedih, dan kesepian menyertai saat kita kehilangan orang yang dicintai. Pandangan lain menyebutkan ada 4 fase, yaitu kelumpuhan, rindu, depresi, dan pulih kembali (Parker, 1972).
Kesadaran terhadap Dunia merupakan suatu aspek yang menguntungkan diri duka cita ialah bahwa hal itu akan menstimulasi banyak orang untuk mencoba menyadari dunia mereka. Peristiwa hidup silih berganti hingga kematian. Tiap-tiap orang yang mengenal orang yang telah mati akan mengembangkan dan memodifikasi versi masing-masing dari cerita kematian keluarga, teman, atau tetangganya. Ternyata memang kematian tidak dapat ditebak. Hari ini dapat dilihat bahwa orang yang di kenal masih bersama-sama dengan diri seseorang, dan hari berikutnya ia telah tiada. Inilah kesadaran yang perlu diperhatikan bahwa manusia bisa belajar dan lebih siap untuk menghadapi kematian kelak,terutama mempersiapkan bekal amal saleh yang di ridhai oleh tuhan yang kita percayai agar selamat dan bahagia.
Dalam perspektif Agama Samawi (agama yang diturunkan wahyu oleh Allah), Kematian Manusia merupakan suatu proses transisi atau perpindahan ruh halus manusia dari alam dunia kealam yang lebih tinggi. Jadi Kehidupan merupakan hanya jembatan untuk kembalinya seorang Manusia kepada penciptanya(Tuhan). Hakikat manusia hidup adalah untuk diuji kemudian setelah itu dimatikan agar unsur-unsur keduniaan yang melekat pada dirinya bersih dari pengaruh duniawi(suatu yang kotor/hina/profane bertolak belakang dengan sifat tuhan yang suci) maka kematian juga merupakan proses pemutusan segala unsur profane manusia hingga bisa bertemu atas panggilan tuhannya yang maha suci itu.
Kematian adalah suatu peristirahatan menuju kedamaian. Damai adalah kelanjutan dan padanan dari mati, karena kematian akan menuju kedamaian. Dan kedamaian adalah dambaan setiap orang, yang jika tidak ditemukan di dunia orang hidup, mungkin bisa ditemukan di “dunia” orang mati. Kedamaian orang mati adalah kebahagian yang abadi baginya, Imam Husein berkata sesungguhnya aku melihat kematian itu sebagai suatu kebahagiaan (La ara al-maut illa sa’adah). Mengapa bahagia, sebab Manusia itu telah bertemu dengan Dzat yang maha sempurna sang pemilik kebahagiaan sejati.
Kematian bukanlah suatu akhir melainkan sebuah awal dari kehidupan yang abadi kelak. Kematian bukanlah keadaan setelah kehidupan berakhir, melainkan menunjuk kepada saat tertentu tepat ketika kehidupannya berakhir. Jadi kata mati Cuma ada pada jasad biologisnya namun esensi orang yang mati itu akan tetap ada pada diri setiap orang yang ditinggalkannya yang mencintainya. Ia akan abadi kelak dan kita akan menyusul ke keabadian itu tentunya melalui kematian pula. Oleh karena itu sayangilah dan kasihilah orang-orang terkasihmu di sekelilingmu; orang tuamu, saudara, sahabat, saahabat yang kau anggap saudara. Ataupun rekan yang kau anggap berharga. Hargailah sisa-sisa waktu Ia masih hidup. Sekian Wassalam

Komentar
Posting Komentar