Menggali Sejarah Lewat Tradisi Lisan : Sumanto Al Qurtuby (Antropolog Budaya King Fahd University)
Sudah sangat lama dunia akademik dan keilmuan kita
dipengaruhi oleh apa yang disebut “tradisi tulisan”. Maksudnya adalah “tulisan”
dijadikan sebagai satu-satunya parameter untuk mengukur keilmiahan sebuah
wacana akademik. Singkatnya, yang tertulis (dalam bentuk buku, manuskrip atau
dokumen lain) dianggap yang ilmiah karena memenuhi kriteria “logos” sementara
yang tidak tertulis (sebut saja tradisi lisan) dianggap tidak ilmiah, tidak
rasional karena hanya memuat mitos dan karena itu tidak bisa dijadikan sebagai
basis rekonstruksi kesejarahan, tidak bisa dijadikan sebagai sumber penulisan
“buku ilmiah”.
Saya pernah dikritik oleh sejarawan asal
Bangladesh dalam sebuah seminar di Jogjakarta karena buku yang saya tulis, Arus China-Islam-Jawa, dianggap tidak
memenuhi standar ilmiah hanya karena buku-buku referensi yang saya pakai sangat
minim dan lebih banyak menggali lewat tradisi lisan yang berkembang di
masyarakat dalam melakukan rekonstruksi sejarah muslim China di Jawa.
Sikap sejarawan Bangladesh yang menolak penggalian
sejarah lewat tradisi lisan karena dianggap mitos—dan karena itu tidak
ilmiah—tadi adalah “exemplary” dari
para sejarawan kita yang mengabaikan tradisi lisan. Tentu tidak semuanya para
historian kita menolak tradisi lisan seraya membela mati-matian tradisi
tulisan. Meskipun demikian, yang menerima tradisi lisan pun masih bersikap
“setengah hati” dan menerimanya sebagai sumber kelas dua atau bahkan
“keterpaksaan intelektual” karena tidak adanya sumber tertulis. Mereka belum
bisa menempatkan “tradisi lisan” sejajar dan memiliki otoritas yang sama dengan
“tradisi tulisan” dalam upaya rekonstruksi sejarah.
Sikap demikian tentu sangat menyedihkan.
Apakah mereka (para akademisi dan sejarawan kita) tidak menyadari bahwa
pandangan demikian sebetulnya merupakan bagian dari “penjajahan Barat” atas
negara berkembang? Kita tahu “tradisi tulisan” adalah bagian dari kebudayaan
masyarakat Barat yang sudah lama “tercerahkan” dan “modern” sementara “tradisi
lisan” tentu saja identik dan diidentikkan dengan negara berkembang yang
“terbelakang” (untuk tidak menyebut “primitif”).
Perdebatan antara otoritas “lisan” dan
“tulisan” dalam wacana ilmiah adalah side
effect dari pertentangan antara “mitos” dan “logos” di dunia Barat.
Jika kita telusuri lebih jauh, para ilmuwan Barat yang menolak keras mitos
adalah akibat dari pengaruh rasionalisasi dan saintifikasi yang berkembang
pesat di Barat di abad pertengahan. Puncaknya pada abad ke-18, ketika mereka
meraih sukses luar biasa di bidang sains dan teknologi. Dari situ mereka berpikir
bahwa logos adalah satu-satunya sarana menuju kebenaran. Mereka mulai
menganggap mitos sebagai kesalahan dan takhayul belaka yang bisa menyesatkan.
Dalam pandangan mereka, logos adalah sebuah
pemikiran rasional, pragmatis, ilmiah yang memungkinkan manusia berfungsi
dengan baik di dunia. Tidak seperti mitos, agar bisa efektif, logos harus
berkaitan persis dengan fakta-fakta dan bersesuaian persis dengan realitas
eksternal. Dari sinilah kemudian mereka melakukan “propaganda intelektual” baik
melalui kolonialisme konvensional yang berujung pada pembudayaan dan atau
pemodernan negara miskin maupun lewat kolonialisme modern dengan menyelundupkan
ilmu-ilmu sosial Barat di berbagai dunia akademik yang bercorak “Barat
sentris.”
Saya tidak menolak “prinsip-prinsip logos”
dalam wacana ilmiah. Hanya saja kekeliruan C.C.Berg (propagandis teori logos)
dan sejumlah ilmuwan Barat lain terletak pada upaya untuk mengukur mitos dari
perspektif logos. Beranggapan bahwa yang “tidak rasional,” “tidak ilmiah,”
“tidak pragmatis” (baca, tidak sesuai dengan prinsip logos) dengan sendirinya
tidak berguna untuk kepentingan rekonstruksi kesejarahan adalah pemikiran yang
keliru dan ceroboh. Mitos, seperti diuraikan Johannes Sloek dalam Devolutional Language, masih berguna terutama
untuk melihat kembali asal-muasal kehidupan, dasar kebudayaan, dan tingkatan
terdalam pikiran manusia. Mitos berurusan dengan makna, tidak berurusan dengan
masalah-masalah praktis. Manusia akan mudah terperosok ke dalam keputusasaan
jika mereka tidak menemukan makna dalam hidup mereka.
Mitos dalam suatu masyarakat memberi manusia
konteks yang membuat kehidupan rutin mereka masuk akal. Mitos mengarahkan
perhatian mereka pada yang abadi dan yang universal. Mitos berakar pada alam
pikiran “bawah sadar”. Berbagai kisah mitologis yang tidak dimaksudkan untuk
diartikan secara harfiah merupakan bentuk kuno dari psikologi. Kisah-kisah
dunia mitologis itu meskipun tidak bisa dimasuki oleh penelitian rasional
murni, namun berakibat besar terhadap perilaku dan pengalaman kita. Akibat
kurangnya apresiasi mitos dalam masyarakat modern mereka harus mengembangkan
ilmu psikoanalisis untuk membantu memahami dunia batiniahnya.
Logos tidak mampu mengarungi “alam bawah
sadar” yang terbatas. Logos tidak mampu mengurangi kesedihan, keperihan dan
kegetiran manusia. Argumen rasional juga tidak mampu memahami tragedi. Inilah
perlunya mitos. Mitos memang tidak bisa ditunjukkan dengan bukti-bukti
rasional. Manfaatnya lebih bersifat intuitif. Ia serupa dengan seni, musik atau
puisi. Ia bagaikan notasi musik yang tetap tidak bisa dimengerti bagi
kebanyakan kita, sehingga notasi itu perlu ditafsirkan secara instrumental agar
kita dapat menikmati keindahannya. Realitas inilah yang tidak ditangkap oleh
para “propagandis logos” baik mereka yang ada di Barat maupun di negara kita
sendiri.
Dari sinilah kita perlu melakukan pembacaan
ulang atas “indikator keilmiahan” jangan hanya tunduk begitu saja pada
logika-logika ilmiah yang dibangun Barat. Kita mesti punya perspektif
keilmiahan sendiri yang dibangun dari akar kebudayaan kita. Bangsa ini
mempunyai warisan kebudayaan, tradisi dan kesejarahan yang melimpah, dan
itu hanya memungkinkan jika penggalian sejarah dilakukan dari perspektif
tradisi lisan. Jangan hanya karena tidak ada sumber tertulis kemudian kita
menyerah tidak mau melakukan eksplorasi intelektual karena berdalil: yang tidak
tertulis adalah tidak ilmiah, tidak rasional, cerita fiksi, mitos. Atau
sebetulnya ketidakmauan itu bukan lantaran dalil tadi tetapi lebih pada watak
“kemalasan intelektual” (intellectual
laziesness) yang menjangkiti para akademisi dan sejarawan kita?
sumber: https://sumantoalqurtuby.com/menggali-sejarah-lewat-tradisi-lisan/

Komentar
Posting Komentar