Korona itu Seksi Sebagai Konspirasi



     Korona, atau Covid-19 sebagaimana dinamai oleh WHO, merupakan virus yang dalam waktu singkat telah mengubah separuh peradaban, tatanan, dan kebiasaan penduduk bumi tanpa terkecuali. Pandemi korona ini telah menyebabkan jalur-jalur penerbangan ditutup, kapal-kapal pesiar ditolak sandar, sekolah-sekolah diliburkan bahkan aktifitas peribadatan ditiadakan. Korona ini juga telah mengakibatkan aktifitas ekonomi nyaris lumpuh, jalan-jalan menjadi luang dan pusat-pusat perbelanjaan menjadi sepi.

Kata 'Korona' kini menjadi seksi dan gurih untuk dibahas. Setiap simpang jalan dari sudut kota sampai desa, anak-anak sampai dewasa terasa bersemangat berbincang persoalan virus corona terlebih lagi di sosial media kini dipenuhi kata 'Korona'.

Kita sudah tahu bahwa kedatangan virus ini berawal dari negeri tirai bambu yaitu Cina, tepatnya di kota Wuhan. Yang kemudian merebak ke berbagai belahan bumi, menewaskan kurang lebih 3 ribu orang dengan cepat dan akan terus bertambah.

Pada dasarnya berbagai penyakit telah ada bersamaan dengan terciptanya manusia itu sendiri. Namun, yang membedakan kini, penyebaran Virus Korona amat sangat cepat dikarenakan kemajuan transportasi , komunikasi yang tak terbatas. Menjadikan manusia mampu berpindah tempat dalam hitungan jam, berkomunikasi dalam jarak yang tak terbatas setiap detik, dan menitnya. Seolah bumi terasa kecil dan tak lebih lebar dari daun kelor penangkal korona.

Epidemi global ini telah membuat semua orang menjadi ketakutan, individualis, anti sosial, resah dan was-was apalagi ketika sudah dibungkus dengan teori konspirasi dan diliputi misteri, desas-desus yang tiada henti. Membuat kita merasa dunia sudah mulai berakhir ketika membaca setiap siaran berita tentang Korona. Bahkan ada berita yang mengatakan bahwa Korona merupakan Virus yang paling mematikan sepanjang sejarah.

 Namun faktanya, flu ternyata menyebabkan kematian lebih banyak dari virus ini berkali-kali. Adapula yang memberitakan bahwa orang yang terjangkit Virus Korona cepat atau lambat akan menemui kematian. Padahal faktanya, orang yang meninggal lantaran Korona Kurang dari 2 persen. Itupun kebanyakan dari mereka yang mempunyai kekebalan tubuh yang sudah rendah, seperti orang tua atau sedang menderita penyakit lain.

Tapi tetap saja, ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari kasus virus ini, seperti menimbun masker, cairan antiseptik dengan ilegal dan menyebarkan hoax demi traffic.

Yang terburuk akibat Virus Korona adalah munculnya rasisme pada beberapa negara seperti yang dikatakan Jocelyn Elia, seorang jurnalis senior dan kolomnis bidang traveling dari Lebanon, ‘’Terus terang, munculnya sikap rasialisme di beberapa negara, berita hoax yang menyeramkan tentang Korona, dan teror tentang kelumpuhan ekonomi, semuanya itu lebih buruk dari Virus Corona itu sendiri,’’ katanya. Wajah-wajah dari etnis tionghoa seketika menjadi momok menakutkan.

Yang mengherankan virus itu muncul di Cina, raksasa ekonomi dunia yang mampu membangun rumah sakit besar kurang dari sepekan. Dari negara inilah virus corona menyebar ke berbagai penjuru dunia. Penanganan Virus Korona yang cepat berhasil menekan jumlah orang yang terpapar Korona sementara di negara-negara lain justru terus bertambah. Perhatian masyarakat internasional pun kini mulai tergeser dari Cina ke dunia. Masalah Cina kini berubah ke masalah global

Berita lain mengatakan, Amerika Serikat merpakan dalangnya, As dikenal dengan film hollywoodnya yang mendunia tengah 'menggarap' film horor tentang Cina/Virus Korona, dengan tujuan memukul ekonomi Cina, yang menjadi ancaman bagi perekonomian Amerika (Perang Dagang). Sebaliknya, Cina ingin membuktikan diri bahwa hanya dengan mengekspor satu virus saja sudah bisa melumpuhkan perekonomian dunia. Karena itu, jangan coba main-main dengan Cina.

Betul atau tidak seperti itulah adanya teori konspirasi yang kini tengah panas dan hangat di perbincangkan. Intinya dampak dari berita-berita yang menyeramkan tentang Korona telah banyak memakan korban.

Virus Korona bukanlah  epidemi atau penyakit menular pertama yang mampu mengguncang dunia. Ada banyak penyakit menular atau mematikan yang dampaknya secara global seperti, Ebola, Zika, Flu Babi SARS dan epidemi-epidemi yang lain.

Tentunya kita menginginkan kehidupan yang normal kembali, tanpa dihantui dan diitimidasi oleh ketakutan berlebihan. Hidup ini sebenarnya sudah sulit tanpa Korona. Daripada terus dihantui oleh kecemasan lebih baik kita melawan dengan hal-hal yang lebih produktif lagi.

Tentu saja tulisan ini tidak bermaksud menganggap enteng dan mengecilkan bahaya Virus Korona. Bahaya memang ada dan akan selalu ada. Tercacatat sudah ada lebih 3 ribu orang meninggal akibat virus ini, dan terbanyak dari Cina. Namun, propganda negatif tentang kasus yang tampak sangat terorganisasi dan massif ini harusnya menjadi perhatian kita.

Penulis : Muhammad Fajar

Komentar

Postingan Populer

Sistem Kuliah Online UNM terinfeksi Covid-19, Mahasiswa Sesak Akal

Stigma Mahasiswa Gondrong

HMPS PENDIDIKAN ANTROPOLOGI FIS UNM Adakan Baksos di Bumi Sawerigading

Teruntuk kaum rebahan, mari kita hilangkan kesenangan "Hore, kuliah online"